Seo Services

BESARAN BESARAN DAN ALAT UKUR LISTRIK

Januari 29, 2019
       BESARAN BESARAN DAN ALAT ALAT                                UKUR LISTRIK

listrik merupakan suatu muatan yang terdiri dari muatan positif dan muatan negatif , dimana sebuah benda akan dikatakan memiliki energi listrik apabila suatu benda itu mempunyai perbedaan jumlah muatan .sedangkan muatan yang dapat berpindah adalah muatan negatif dari sebuah benda,berpindahnya muatan negatif ini disebabkan oleh bermacam gaya atau energi, misal energi gerak,energi  panas dsb.perpindahan muatan negatif  inilah yang disebut dengan energi listrik.karena suatu benda akan senantiasa mempertahankan keadaan netral atau seimbang antara muatan positif dan muatan negative. Sehingga apabila jumlah muatan positif lebih besar dari muatan negative, maka benda tersebut mencari muatan negative untuk mencapai keadaan seimbang. 


1Listrik memiliki besaran-besaran diantaranya sebagai berikut :

1Tegangan Listrik

Tegangan listik yaitu perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt. Besaran ini mengukur energi potensial dari sebuah medan listrik yang mengakibatkan adanya aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan potensial listriknya, suatu tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi atau ekstra tinggi. Secara definisi tegangan listrik menyebabkan obyek bermuatan listrik negatif tertarik dari tempat bertegangan rendah menuju tempat bertegangan lebih tinggi. Sehingga arah arus listrik konvensional di dalam suatu konduktor mengalir dari tegangan tinggi menuju tegangan rendah.

2Arus Listrik 

Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang disebabkan dari pergerakan elektron-elektron, mengalir melalui suatu titik dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan couloumb/detik atau  Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang sangat lemah dalam satuan mikroAmpere seperti di dalam jaringan tubuh hingga arus yang sangat kuat 1-200 kiloAmpere seperti yang terjadi pada petir. Dalam kebanyakan sirkuit arus searah dapat diasumsikan resistansi terhadap arus listrik adalah konstan sehingga besar arus yang mengalir dalam sirkuit bergantung pada voltabese dan resistansi sesuai dengan hukum ohm.
 Hambatan Listrik

3Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen elektronik (misalnya resistor ) dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan listrik yang mempunyai satuan Ohm. yang dapat dirumuskan


R adalah hambatan (Ohm)
V adalah tegangan (Volt)
I adalah arus (ampere)
Gaya Gerak Listrik ( GGL )

4Gaya gerak listrik (GGL) adalah besarnya energi listrik yang berubah menjadi energi bukan listrik atau sebaliknya, jika satu satuan muatan melalui sumber itu, atau kerja yang dilakukan sumber arus persatuan muatan. dinyatakan dalam Volt.


5Muatan Listrik 

Muatan listrik adalah muatan dasar yang dimiliki suatu benda, yang membuatnya mengalami gaya pada benda lain yang berdekatan dan juga memiliki muatan listrik. Simbol Q sering digunakan untuk menggambarkan muatan. sistem satuan internasional dari satuan Q adalah coloumb, yang merupakan 6.24 x 1018 muatan dasar. Q adalah sifat dasar yang dimiliki oleh  materi baik itu berupa proton (muatan positif) maupun elektron (muatan negatif). Muatan listrik total suatu atom atau materi ini bisa positif, jika atomnya kekurangan elektron. Sementara atom yang kelebihan elektron akan bermuatan negatif. Besarnya muatan tergantung dari kelebihan atau kekurangan elektron ini, oleh karena itu muatan materi/atom merupakan kelipatan dari satuan Q dasar. Dalam atom yang netral, jumlah proton akan sama dengan jumlah elektron yang mengelilinginya (membentuk muatan total yang netral atau tak bermuatan).

6Kapasitansi

Kapasitans adalah ukuran jumlah muatan listrik yang disimpan (atau dipisahkan) untuk sebuah potensial listrik yang telah ditentukan. Bentuk paling umum dari piranti penyimpanan muatan adalah sebuah kapasitor dua lempeng/pelat/keping. Jika muatan di lempeng/pelat/keping adalah +Q dan –Q, dan V adalah tegangan listrik antar lempeng/pelat/keping, maka rumus kapasitans adalah:
C = \frac{Q}{V}
C adalah kapasitansi yang diukur dalam farad
Q adalah muatan yang diukur dalam coloumb
V adalah voltase yang diukur dalam volt


7 Induktansi

Induktansi adalah sifat dari rangkaian elektronika yang menyebabkan timbulnya potensial listrik secara proporsional terhadap arus yang mengalir pada rangkaian tersebut, sifat ini disebut sebagai induktasi sendiri. Sedang apabila potensial listrik dalam suatu rangkaian ditimbulkan oleh perubahan arus dari rangkaian lain disebut sebagai induktansi bersama. Satuan induktansi dalam satuan internasional adalah weber per ampere atau dikenal pula sebagai henry (H).
Induktansi muncul karena adanya medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik (dijelaskan oleh hukum ampere). Supaya suatu rangkaian elektronika mempunyai nilai induktansi, sebuah komponen bernama induktor digunakan di dalam rangkaian tersebut, induktor umumnya berupa kumparan kabel/tembaga untuk memusatkan medan magnet dan memanfaatkan GGL yang dihasilkannya.

8 Kuat Medan Listrik

Medan lisrtik adalah ruang di sekitar benda bermuatan listrik dimana benda-benda bermuatan listrik lainnya dalam ruang ini akan merasakan atau mengalami gaya listriArah Medan Listrik.
Kuat medan listrik adalah besaran yang menyatakan gaya coloumb per satuan muatan di suatu titik.
Fluks Magnet
Fluk magnetik adalah ukuran total medan magnetik yang menembus bidang. secara matematis fluk maknetik didefinisikan sebagi perkalian skalar antara induksi magnetik (B) dengan luas bidang yang tegak lurus pada induksi magnetik tersebut.
BESARNYA:

f = B A cos q 

f  = fluks magnetik (weber)
B = induksi magnetik
A = luas bidang yang ditembus garis gayamagnetik
q = sudut antara arah garis normal bidang A dan arah B


Berikut besaran listrik, notasi ( simbol ) dan satuan serta hubungan persamaan antara besaran :



Berikut besaran listrik, notasi ( simbol ) dan satuan serta hubungan persamaan antara besaran :
  1. Berikut besaran listrik, notasi ( simbol ) dan satuan serta hubungan persamaan antara besaran :




    Besaran listrik satuan dan alat ukurnya :








                                                   2       Alat ukur listrik













             Alat Ukur listrik adalah peralatan yang memungkinkan untuk mengamati besaran-besaran listrik, seperti hambatan listrik (R), kuat arus listrik (I), beda potensial listrik (V), daya listrik (P), dan lainnya. Terdapat dua jenis alat ukur yaitu alat ukur analog dan alat ukur digital.

Berikut adalah macam-macam alat ukur listrik :


  1. VoltmeterVoltmeter adalah alat/perkakas untuk mengukur besar tegangan listrik dalam suatu rangkaian listrik. Voltmeter disusun secara paralel terhadap letak komponen yang diukur dalam rangkaian. Alat ini terdiri dari tiga buah lempengan tembaga yang terpasang pada sebuah bakelite yang dirangkai dalam sebuah tabung kaca atau plastik. Lempengan luar berperan sebagai anode sedangkan yang di tengah sebagai katode. Umumnya tabung tersebut berukuran 15 x 10cm (tinggi x diameter).



  2. AmperemeterAmperemeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik baik untuk listrik DC maupun AC yang ada dalam rangkaian tertutup. Amperemeter biasanya dipasang berderet dengan elemen listrik. Cara menggunakannya adalah dengan menyisipkan amperemeter secara langsung ke rangkaian.

  3.  OhmmeterOhm-meter adalah alat untuk mengukur hambatan listrik, yaitu daya untuk menahan mengalirnya arus listrik dalam suatu konduktor. Besarnya satuan hambatan yang diukur oleh alat ini dinyatakan dalam ohm. Alat ohm-meter ini menggunakan galvanometer untuk mengukur besarnya arus listrik yang lewat pada suatu hambatan listrik (R), yang kemudian dikalibrasikan ke satuan ohm.



  4. Wattmeter
    Wattmeter adalah instrumen untuk mengukur power listrik (atau rate suplai energi listrik) dalam satuan watt untuk rangkaian sirkuit apapun.
  5. Multitester
    Multimeter adalah alat untuk mngukur listrik yang sering dikenal sebagai VOAM (VolT, Ohm, Ampere meter) yang dapat mengukur tegangan (voltmeter), hambatan (ohm-meter), maupun arus (amper-meter). Ada dua kategori multimeter: multimeter digital atau DMM (digital multi-meter)(untuk yang baru dan lebih akurat hasil pengukurannya), dan multimeter analog. Masing-masing kategori dapat mengukur listrik AC, maupun listrik DC.


  6. kWhmeter

    Kwh meter adalah alat yang digunakan oleh pihak PLN untuk menghitung besar pemakaian daya konsumen. Alat ini sangat umum dijumpai di masyarakat. Bagian utama dari sebuah KWH meter adalah kumparan tegangan, kumparan arus, piringan aluminium, magnet tetap yang tugasnya menetralkan piringan aluminium dari induksi medan magnet dan gear mekanik yang mencatat jumlah perputaran piringan aluminium.
  7. FrekuensimeterFrekuensi meter adalah meter yang digunakan untuk mengukurbanyaknya pengulangan gerakan periodik perdetik. Gerakan periodik seperti detak jantung, ayunan bandul jam. Ada dua jenis frekuensi meter analog dan digital. Frekuensi meter analog merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur besaran frekuensi dan yang berkaitan dengan frekuensi. Terdapat beberapa jenis frekuensimeter analog diantaranya jenis batang atau lidah getar, alat ukur ratio dan besi putar. Dalam mengukur frekuensi atau waktu perioda secara elektronik dapat dilakukan dengan beberapa cara.




  8. Cos phimeter

    Cos phimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur faktor daya, Faktor daya adalah perbandingan antara daya aktif (watt) dengan daya semu/daya total (VA), atau cosinus sudut antara daya aktif dan daya semu/daya total

  9. Oscilloscope Oscilloscope/osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar katode. Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar katode. Sorotan elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari.



  10. Generator Fungsi
    Generator fungsi adalah alat ukur yang digunakan sebagai sumber pemicu yang diperlukan, merupakan bagian dari peralatan (software) uji coba elektronik yang digunakan untuk menciptakan gelombang listrik. Gelombang ini bisa berulang-ulang atau satu kali.
    Generator fungsi analog umumnya menghasilkan gelombang segitiga sebagai dasar dari semua outputnya. Segitiga ini dihasilkan oleh kapasitor yang dimuat dan dilepas secara berulang-ulang dari sumber arus konstan.
    Tipe lain dari generator fungsi adalah sub-sistem yang menyediakan output sebanding terhadap beberapa input. Contohnya, output berbentuk kesebandingan dengan akar kuadrat dari input. Alat seperti itu digunakan dalam sistem pengendali umpan dan komputer analog.
  11. Megger
    Megger dipergunakan untuk mengukur tahanan isolasi dari alat-alat listrik maupun instalasi-instalasi, output dari alat ukur ini umumnya adalah tegangan tinggi arus searah.Megger ini banyak digunakan petugas dalam mengukur tahanan isolasi antara lain untuk : Kabel instalasi pada rumah-rumah/bangunan, Kabel tegangan tinggi, Kabel tegangan rendah, Transformator, dan peralatan listrik lainnya.



BESARAN BESARAN DAN ALAT UKUR LISTRIK BESARAN BESARAN DAN ALAT UKUR LISTRIK Reviewed by rio adi saputra on Januari 29, 2019 Rating: 5

Mengenal Jenis Beban Listrik ,Resitif,Induktif,Kapasitif

Januari 21, 2019

Mengenal Jenis Beban Resistif, Induktif dan Kapasitif, pada sistem kelistrikan Arus Bolak-balik, beserta contoh Alat listriknya
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Beban Resistif, Induktif dan Kapasitif?
Apa saja contoh alat listrik yang termasuk Beban Resistif, Induktif dan Kapasitif?
Terdapat berbagai jenis alat listrik yang menggunakan Listrik AC, baik Listrik AC 1 Phase maupun Listrik AC 3Phase, seperti misalnya Lampu pijar, Lampu TL, Rice cooker, Setrika, Kipas angin, Motor listrik 1 Phase, Motor Listrik 3 Phase, Heater, dan sebagainya.
Berbagai Alat Listrik yang kita sebutkan diatas, membutuhkan Energi/daya listrik agar dapat dioperasikan atau dinyalakan, dan semuanya itu termasuk kedalam Beban Listrik.
Beban Listrik adalah Setiap Alat yang membutuhkan Energi atau Daya Listrik agar dapat dioperasikan atau digunakan.
Berbagai alat listrik yang mengkonsumsi Daya Listrik, disebut dengan Beban Listrik, dan berbagai beban Listrik yang menggunakan Listrik Arus Bolak-balik tersebut dikelompokkan menjadi 3 jenis Beban listrik.

3 Jenis Beban Listrik AC

  • Beban Resistif
  • Beban Induktif
  • Beban Kapasitif

Beban Resistif, Induktif dan Kapasitif


Penjelasan mengenai Beban Resistif, Induktif dan Kapasitif, beserta contohnya
Beban Resistif, Induktif dan Kapasitif


Beban Resistif
Beban Resistif adalah suatu alat yang membutuhkan daya listrik, berupa komponen yang terdiri dari Resistan (Ohm), dan bekerja/beroperasi berdasarkan prinsip kerja Resistansi (Hambatan).

Beban Resistif hanya mengkonsumsi Daya Aktif, dan tidak menyebabkan perubahan nilai faktor daya, sehingga nilai Faktor daya tetap, yaitu sama dengan satu.

Alat Listrik yang termasuk Beban Resistif bekerja berdasarkan prinsip kerja Resistor (Hambatan), sehingga arus listrik yang melewatinya akan terhambat, dan akibatnya alat listrik tersebut akan menghasilkan Panas.

Beban Resistif tidak mempengaruhi gelombang Tegangan dan Arus, sehingga posisi Gelombang Tegangan dan Arus tetap sefasa.

Beberapa contoh alat listrik yang termasuk jenis Beban Resistif, antara lain:
  • Lampu Pijar
  • Heater
  • Rice cooker
  • Setrika
  • Solder Listrik
  • Ceret Listrik
  • Dan semua alat listrik yang bekerja menggunakan Elemen Pemanas.    



Gambar lampu pijar






 Gambar Heater


Rice cooker
Gambar setrika


Gambar solder






Karena Alat Listrik yang termasuk kedalam jenis Beban Resistif tidak mempengaruhi Faktor Daya (Cosphi=1), maka rumus daya pada beban resistif, adalah:

P = V x I
  • P: Power atau Daya (Watt)
  • V: Voltage atau Tegangan (Volt)
  • I: Intensity atau Arus (Ampere)


Beban Induktif
Beban Induktif adalah suatu alat yang membutuhkan daya listrik, berupa kumparan/lilitan kawat penghantar yang dililit pada suatu inti kumparan, yang bekerja/beroperasi berdasarkan prinsip kerja Induksi.

Beban Induktif mengkonsumsi/menyerap Daya Aktif, dan Daya Reaktif.

Beban Induktif menghasilkan Daya Harmonik yang dapat mengakibatkan penurunan nilai Cosphi menjadi lebih kecil dari 1,00.

Kumparan pada Beban Induktif menyebabkan terhambatnya laju arus, sehingga terjadi pergeseran posisi gelombang Arus menjadi tertinggal (Lagging) dari Gelombang Tegangan.

Beberapa contoh Alat Listrik yang termasuk jenis Beban Induktif, antara lain:
  • Motor Listrik
  • Mesin Las Listrik
  • Transformator (Travo)
  • Induktor
  • Solenoid Coil
  • Lampu Hemat energi
  • dan semua alat listrik yang bekerja berdasarkan Induksi


Motor listrik

Mesin las listrik
Transformator


 Induktor





Slenoid coil
Lampu hemat listrik

Karena Alat listrik yang termasuk kedalam jenis Beban Induktif dapat mengakibatkan penurunan nilai Cosphi (Faktor daya), maka rumus daya pada beban Induktif listrik 1 Phase, adalah:

P = V x I x Cosphi
  • P: Power atau Daya (Watt)
  • V: Voltage atau Tegangan (Volt)
  • I: Intensity atau Arus (Ampere)
  • Cosphi (Faktor daya) nilai <1

Sedangkan rumus daya untuk Listrik Arus bolak balik 3 Phase, adalah:

P = V x I x Cosphi x akar3
  • P: Power atau Daya (Watt)
  • V: Voltage atau Tegangan (Volt)
  • I: Intensity atau Arus (Ampere)
  • Cosphi (Faktor daya) nilai <1


Beban Kapasitif
Beban Kapasitif adalah suatu alat yang membutuhkan daya listrik, dan memiliki kemampuan Kapasitansi yaitu kemampuan untuk menyerap dan menyimpan energi listrik dalam waktu sesaat.

Beban Kapasitif mengkonsumsi/menyerap Daya Aktif, dan mengeluarkan Daya Reaktif, sehingga alat ini dapat digunakan untuk memperbaiki faktor dalam batasan tertentu.

Beban Kapasitif menyebabkan terhambatnya laju Tegangan, sehingga terjadi pergeseran posisi gelombang Arus menjadi mendahului (Leading) dari Gelombang Tegangan.

Alat listrik yang termasuk jenis Beban Kapasitif, adalah Kapasitor (Kondensator)


Karena Alat listrik yang termasuk kedalam jenis Beban Kapasitif dapat mengakibatkan perubahan nilai Cosphi (Faktor daya) lebih kecil dari 1,00, maka rumus daya pada beban Kapasitif listrik 1 Phase, adalah:

P = V x I x Cosphi
  • P: Power atau Daya (Watt)
  • V: Voltage atau Tegangan (Volt)
  • I: Intensity atau Arus (Ampere)
  • Cosphi (Faktor daya) nilai <1

Sedangkan rumus daya untuk Listrik Arus bolak balik 3 Phase, adalah:

P = V x I x Cosphi x akar3
  • P: Power atau Daya (Watt)
  • V: Voltage atau Tegangan (Volt)
  • I: Intensity atau Arus (Ampere)
  • Cosphi (Faktor daya) nilai <1

Mengenal Jenis Beban Listrik ,Resitif,Induktif,Kapasitif Mengenal Jenis Beban Listrik ,Resitif,Induktif,Kapasitif Reviewed by rio adi saputra on Januari 21, 2019 Rating: 5

SAKLAR SENJA

Januari 08, 2019
  1.  TUJUAN :
    • menentukan komponen kebutuhan rangkaian
    • membuat rangkaian saklar senja
    • memahami  cara kerja rangakaia
  2. ALAT DAN BAHAN
    1. Transistor type NPN FCS9013
    2. Resistor 10 k ohm
    3. Potensio meter
    4. Sensor cahaya LDR 
    5. Relay 12 VDC
    6. Power supply 12VDC
  3. DASAR KERJA RANGKAIAN
    • Potensiometer: berfungsi untuk mengatur kepekaan intensitas cahaya
    • Transistor:berfungsi untuk sebagai switch elektronik
    • Resistor berfungsi sebagai pembatas penahan arus yg masuk ke basis transistor dan pembagi tegangan
    • Relay berfungsi sebagai tranfer sakalar mekanik 
    • Power supply berfungsi sebagai catu daya (sumber tenaga)rangkaian
  4. LANGKAH KERJA
    • Menyiapkan alat dan bahan rangkaian
    • Menguji komponen dengan avo meter atau alat yg lain
    • Memahami rangkaian kerja atau gambar
    • Memasang komponen pada papan rangkaian atau pcb
    • Melakukan penyolderan
    • Merapikan rangkaian dengan memotong sisa kaki komponen
    • Meneliti hasil rangkaian sesuai dengan sekema
    • Menguji rangkaian dengan sumber tegangan DC12VDC
    • Melakukan pengaturan intensitas cahaya
    • Mencatat perubahan kejadian nyala dan matinya lampu
  5. GAMBAR KERJA RESISTOR
    1. RESISTOR
2 POTENSIOMETER
3 LDR

4RELAY

5POWER SUPPLY

6GAMBAR RANGKAIAN

7 TRANSISTOR


SAKLAR SENJA SAKLAR SENJA Reviewed by rio adi saputra on Januari 08, 2019 Rating: 5

gerbang logika

November 13, 2018
Pengertian Gerbang Logika Dasar dan Jenis-jenisnya

Pengertian Gerbang Logika Dasar dan Jenis-jenisnya– Gerbang Logika atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Logic Gate adalah dasar pembentuk Sistem Elektronika Digital yang berfungsi untuk mengubah satu atau beberapa Input (masukan) menjadi sebuah sinyal Output (Keluaran) Logis. Gerbang Logika beroperasi berdasarkan sistem bilangan biner yaitu bilangan yang hanya memiliki 2 kode simbol yakni 0 dan 1 dengan menggunakan Teori Aljabar Boolean.


Jenis-jenis Gerbang Logika Dasar dan Simbolnya

Terdapat 7 jenis Gerbang Logika Dasar yang membentuk sebuah Sistem Elektronika Digital, yaitu :

Gerbang AND
Gerbang OR
Gerbang NOT
Gerbang NAND
Gerbang NOR
Gerbang X-OR (Exclusive OR)
Gerbang X-NOR (Exlusive NOR)

1. AND
Lampu akan menyala hanya apabila kontak A dan kontak B  dinyalakan secara bersamaan. Jalur listrik akan terbentuk jika dan hanya jika kedua kontak dalam keadaan tertutup / on.Teori dan Contoh Penggunaan Ladder Diagram (Logika : AND, OR, NOT, NAND, NOR dan XOR)

2. OR
Lampu akan menyala apabila  kontak A atau kontak B dinyalakan (hanya salah satu saja), karena  jalur listrik dapat terbentuk bisa melalui jalur kontak A atau kontak B.




3. NOT
Logika NOT menghasilkan output yang berkebalikan dengan inputnya. Secara umum pada ladder diagram kontak normally open merupakan kontak secara umum yang digunakan, saat diberi input 0 maka outputnya juga akan 0, dan saat diberikan input 1 maka outputnya juga akan satu. Kebalikan dari kontak normally open adalah kontak normally close, maka logika not ini dapat disamakan dengan kontak normally close pada ladder diagram.


4. NAND (NOT AND)
NAND mempunyai output yang berlawanan dengan output logika AND. Output hanya akan bernilai 0 saat semua nilai inputnya bernilai 1, selain dari kondisi tersebut maka outputnya akan bernilai 1. Logika NAND equivalent dengan gerbang logika OR yang inputnya di-inverse-kan (NOT).
5. NOR (NOT OR)
NOR mempunyai output yang berlawanan dengan output logika OR. Output hanya akan bernilai 1 saat semua nilai inputnya bernilai 0, selain dari kondisi tersebut maka outputnya akan bernilai 1. Logika NOR equivalent dengan gerbang logika AND yang inputnya di-inverse-kan (NOT).
6. XOR (Exclusive OR)
XOR merupakan gerbang logika eksklusif OR, output XOR hanya bernilai 0 saat semua inputnya bernilai sama (semua input bernilai 0 atau semua input bernilai 1), selain itu output XOR bernilai 1. Biasanya digunakan pada saklar pada lampu tangga, dimana untuk menyalakan / mematikan lampu dapat menggunakan saklar pada lantai bawah atau lantai atasnya. Apabila lampu dalam keadaan menyala, dan kita ingin menghidupkannya dari lantai bawah, kita hanya perlu menekannya dari lantai bawah saja, dan untuk menghidupkannya kita hanya perlu menekan saklar kembali ke posisi awalnya, begitu pula yang terjadi pada lantai atas.
7pengertian gerbang xnor

pengertian gerbang xnor dan cara kerja gerbang xnor. Gerbang xnor adalah gerbang logika dimana jika kedua input bernilai sama maka hasil output adalah 1 sedangkan jika berbeda hasil output adalah 0. Prinsip kerja gerbang xnor merupakan kebalikan dari gerbang xor

Gerbang Xnor pada dasarnya adalah modifikasi dari gerbang xor yang di tambah gerbang not pada outputnya sehingga hasilnya berkebalikan dengan gerbang Xor. Selengkapnya pengertian gerbang xnor dan cara kerja gerbang xnor adalah sebagai berikut










gerbang logika gerbang logika Reviewed by rio adi saputra on November 13, 2018 Rating: 5
Oktober 30, 2018
Sistem Bilangan
·      Gambaran umum sistem bilangan
·      Sistem bilangan (Desimal, Biner, Octal dan Hexadecimal)
·      Konversi bilangan
·      Sistem bilangan Binary Code Decimal (BCD) dan Binary Code Hexadecimal (BCH)
·      ASCII Code
                                                                URAIAN MATERI 
Sistem bilangan (number system) adalah  suatu cara untuk mewakili besaran dari suatu item fisik. Sistem bilanan yang banyak dipergunakan oleh manusia adalah sistem bilangan desimal, yaitu sisitem bilangan yang menggunakan 10 macam symbol untuk mewakili suatu besaran.Sistem ini banyak digunakan karena manusia mempunyai sepuluh jari untuk dapat membantu perhitungan. Lain halnya dengan komputer, logika di komputer diwakili oleh bentuk elemen dua keadaan yaitu off (tidak ada arus) dan on (ada arus). Konsep inilah yang dipakai dalam sistem bilangan binary yang mempunyai dua macam nilai  untuk mewakili suatu besaran nilai. Selain system bilangan biner, komputer juga menggunakan system bilangan octal dan hexadesimal.

1.      Representasi Data
Data  adalah  bilangan  biner  atau  informasi  berkode  biner  lain  yang  dioperasikan untuk  mencapai  beberapa  hasil  penghitungan  penghitungan  aritmatik,  pemrosesan  data dan  operasi  logika,  representasi  data  Dinyatakan  dengan  sign,  bilangan  magnitude  dan posisi titik radiks. Titik radiks memisahkan bilangan bulat dan pecahan. Penggunaan  titik  radiks  berkaitan  dengan  jajaran  bilangan  yang  dapat  ditampung  oleh komputer.
Representasi Fixed-point : titik radiks selalu pada posisi tetap.
a = m x r e
r   = radiks, m = mantissa, e  = eksponen
Untuk menyatakan bilangan yang sangat besar atau sangat kecil, dengan menggeser titik radiks dan  mengubah eksponen untuk mempertahankan nilainya.
Contoh:
a. Bilangan desimal:
    5185.6810 = 5x103 + 1x102 + 8x101 +  5x100 + 6 x 10-1 + 8 x 10-2
                        = 5x1000 + 1x100 + 8x10 + 5 x 1 + 6x0.1 + 8x0.01
b. Bilangan biner (radiks=2, digit={0, 1})
      101.0012 = 1x4 + 0x2 + 1x1 + 0x.5 + 0x.25 + 1x.125 = 5.12510

2.  Representasi Bilangan Positif dan Negatif pada bilangan BINER
a.    Label tanda konvensional : + dan –
 Contoh : +4 dan -4
b.    Menggunakan posisi digit sebelah kiri (MSB)  sebagai  sign digit  (0  untuk positif dan 1 untuk negatif).
Contoh  : Sign-Magnitude +9 dalam 8 bit = 00001001  Sign-Magnitude –4 dalam 4 bit = 1100
                 Magnitude  dari  bilangan  positif  dan  negatif  sama  hanya  berbeda  pada  sign digitnya/MSB.
c.    Representasi Komplemen-1
Angka nol diubah menjadi satu dan satu menjadi nol.
Contoh :  Dalam 8 bit
+12 = 00001100
-12 = 11110011
d.  Representasi Komplemen-2
Dengan representasi komplemen-1 ditambah 1.
Contoh :  Dalam 8 bit
-12 = 11111011 (Komplemen-1)
1 +
   = 11111100 (Komplemen-2)

3.      Tipe Data
Tipe data dapat dibagi 4 (empat) yaitu :
a.      Data  Numerik  :  merepresentasikan  integer  dan  pecahan  fixed-point,  real floating-point dan desimal berkode biner.
b.      Data  Logikal  :  digunakan  oleh  operasi  logika  dan  untuk  menentukan  atau memriksa kondisi seperti yang dibutuhkan untuk instruksi bercabang kondisi.
c.      Data bit-tunggal : untuk operasi seperti SHIFT, CLEAR dan TEST.
d.     Data Alfanumerik :  data yang tidak hanya dikodekan dengan  bilangan tetapi juga dengan huruf dari alpabet dan karakter khusus lainnya

A.      Sistem Bilangan
Sistem  Bilangan  adalah  suatu  cara  untuk  mewakili  besaran  dari  suatu  item  fisik. Sistem  bilangan  menggunakan  basis  (base  /  radix)  tertentu  yang  tergantung  dari  jumlah bilangan yang digunakan. Konsep Dasar Sistem Bilangan adalah Suatu sistem bilangan, senantiasa mempunyai Base (radix), absolute digit dan positional (place) value.
Macam-Macam Sistem Bilangan
Suatu sistem komputer mengenal beberapa macam sistem bilangan, seperti :
Tabel 1. Macam sistem bilangan








                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               1Aplikasi Sistem Bilangan :
1.      Sistem Desimal à nilai mata uang : puluhan, ratusan, ribuan dll
2.      Sistem Biner à rangkaian elektronika digital
3.      Sistem Oktal à instruksi computer dengan kode 3-bit
4.      Sistem Hexadesimal à pengalamatan memory pada micro controller

1.      Sistem Bilangan Desimal
Bialangan desimal adalah bilangan yang menggunakan 10 angka mulai 0 sampai 9 berturut-turut. Setelah angka 9, maka angka berikutnya adalah 10, 11,  12  dan  seterusnya. Bilangan desimal disebut juga bilangan berbasis 10. Contoh penulisan  bilangan  desimal  : 1710. Ingat, desimal berbasis 10, maka angka 10‐lah yang menjadi subscript pada penulisan  bilangan desimal. Bentuk nilai ini dapat berupa integer desimal atau pecahan.
Integer desimal :
adalah nilai desimal yang bulat, misalnya 8598 dapat diartikan :
8 x 103      = 8000
5 x 102      =   500
9 x 101      =      90
8 x 100      =        8
                      8598

     
          
Absolue value merupakan nilai mutlak dari masing-masing digit bilangan, sedangkan  position value adalah merupakan penimbang atau bobot dari masing-masing digit tergantung dari letak posisinya, yaitu bernilai basis dipangkatkan dengan urutan posisinya.

Posisi Digit
Nilai Posisi
 1
100 = 1
2
101 = 10
3
102 = 100
4
103 = 1000
5
104 = 10000


Sehingga bilangan 8598 dapat diartikan 
(8x1000)+(5x100)+(9x10)+(8x1)
Pecahan desimal :
Adalah nilai desimal yang mengandung nilai pecahan dibelakang koma, misalnya nilai 183,75 adalah pecahan desimal yang dapat diartikan :
1 x 10 2     = 100
8 x 10 1     =  80
3 x 10 0     =    3
7 x 10 –1    =    0,7
           5 x 10 –2    =    0,05

                    
                     183,75
2.        Bilangan Biner (Binary Numbering System)
Sistem  bilangan  biner  mempunyai  hanya  dua  macam  simbol  angka,  yaitu  0 dan  1,  dan  karena  itu  dasar  dari  sistem  bilangan  ini  adalah  dua. 
Bilangan biner  juga  disebut  bilangan  berbasis 2.  Setiap  bilangan  pada  bilangan  biner  disebut bit, dimana 1 byte = 8 bit.  Contoh penulisan : 1101112.
-    Notasi   : (n)2
-    Digit  biner  digunakan  untuk  menunjukan  dua  keadaan  level  tegangan: HIGH atau LOW.
-  Sebagian besar sistem digital level HIGH direpresentasikan oleh 1 atau ON dan level LOW direpresentasikan oleh 0 atau OFF.
-    Penulisan : 1102,112

3.        Bilangan Oktal
Bilangan  Oktal  mempunyai  delapan  macam  simbol  angka,  yaitu:  0,  1,  2,  3, 4,  5,  6,  7,  dan  karena  itu,  dasar  daripada  bilangan  ini  adalah  delapan.
-  Notasi  : (n)8
-  Penulisan : 458, 748

4.        Bilangan Heksadesimal
Bilangan heksadesimal,  atau  bilangan  heksa,  atau  bilangan  basis  16,  menggunakan  16 buah simbol, mulai dari 0 sampai 9, kemudian dilanjut dari A sampai  F.  Jadi,  angka  A sampai F merupakan simbol untuk 10 sampai 15. Contoh penulisan : C516.
Tabel 2. Bilangan Dengan Basis yang Berbeda








B.       Konversi Bilangan
Setiap angka pada suatu sistem bilangan dapat dikonversikan  (disamakan/diubah) ke  dalam  sistem  bilangan  yang  lain.  Secara umum  ekspresi  sistem  bilangan  basis–r mempunyai perkalian koefisien oleh pangkat dari r.
anrn + a n-1 r n-1 + … + a1r2 + a2r2 + a1r1 + a0r0 + a-1 r-1 + a-2 r-2 + …
Contoh.
Konversi bilangan n berbasisi r ke desimal
11010,112 = 1.24 + 1.23 + 0.22 + 1.21 + 0.20 +1.2-1 + 1.2-2
= 26,7510
4021,25 = 4.53 + 0.52 + 2.51 + 1.50 + 2.5-1
  =  511,410         




     B   Konversi bilangan Desimal ke Biner
Konversi bilangan desimal bulat ke bilangan Biner :
Gunakan  pembagian dengan 2  secara  suksesif  sampai  sisanya  =  0. Sisa-sisa  pembagian membentuk jawaban, yaitu sisa yang pertama akan menjadi  least significant bit (LSB)  dan sisa yang terakhir menjadi most significant bit (MSB).
Contoh:
a.     Konersi 13210 ke biner :
133  /2 = 66 sisa 1 (LSB)
     /2 = 33 sisa 0
                  /2 = 16 sisa 1
     /2 = 8   sisa 0
     /2 = 4   sisa 0
                  /2 = 2   sisa 0
     /2 = 1   sisa 0
     /2 = 0   sisa 1 (MSB)
13310 = 100001012
LSB  MSB

b.      Konversi 24410 ke biner :
244  /2 = 122 sisa 0 (LSB)
                    /2 = 61 sisa 0
                    /2 = 30 sisa 1
                    /2 = 15 sisa 0
                    /2 = 7   sisa 1
                    /2 = 3   sisa 1
                    /2 = 1   sisa 1
                    /2 = 0   sisa 1 (MSB)
24410 = 111101002
LSB     MSB
2.      Konversi Bilangan Desimal ke Oktal
Untuk konversi bilangan decimal menjadi bilangan octal, caranya sama dengan konversi decimal ke biner yaitu dengan pembagian radiksnya. Lebih jelasnya dapat dilihat seperti beberapa contoh di bawah ini.
Bilangan dari 1610 jika dirubah ke octal menjadi :
16  :  8  =  2        sisa 0             LSD

2    :  8  =  0        sisa 2             MSD
Jadi bilangan octal dari 1610 adalah 208.
Contoh soal :
Rubah bilangan dari bentuk decimal ke dalam bentuk bilangan octal :
a.       19210
b.      7810
Jawab :
a.       192 : 8 = 24     sisa 0
24 : 8 = 3         sisa 0
3 : 8 = 0           sisa 3
Jadi bilangan octal dari 19210 adalah 3008.
b.      78 : 8 = 9         sisa 6
9 : 8 = 1           sisa 1
1 : 8 = 0           sisa 1
Jadi bilangan octal dari 7810 adalah 1168.

3.      Konversi Bilangan Desimal ke Heksadesimal
Misalkan bilangan desimal yang ingin saya ubah adalah 24310. Untuk menghitung proses konversinya, caranya sama saja dengan proses konversi desimal ke biner, hanya saja kali ini angka pembaginya adalah 16. Maka :
243 : 16 = 15 sisa 3.
15 : 16 = 0 sisa F à ingat, 15 diganti jadi F
0 : 16 = 0 sisa 0….(end)
Nah, maka hasil konversinya adalah F316.
Contoh soal :
a          1.  22310
b          2.  18710
Jawab :
a        1.  223 : 16 = 13   sisa 15 à ingat, 13 diganti D
        15 : 16 = 0       sisa 15 à ingat, 15 diganti F
        0 : 16 = 0         sisa 0
        Jadi hasil konversi dari 22310 adalah DF16
b       2.  187 : 16 = 11   sisa 11 à ingat, 11 diganti B
       11 : 16 = 0       sisa 11 à ingat, 11 diganti B
       0 : 16 = 0         sisa 0
       Jadi konversi dari 18710 adalah BB16

4.      Konversi Bilangan Biner ke Desimal
Proses konversi bilangan biner ke bilangan desimal adalah proses perkalian setiap bit pada bilangan biner dengan perpangkatan 2, dimana perpangkatan 2 tersebut berurut dari kanan ke kiri bitbernilai 20 sampai 2n.
contoh bilangan yang merupakan hasil perhitungan di atas, yaitu 100001012. bilangan tersebut di baca posisinya mulai dari kanan ke kiri. Saatnya mengalikan setiap bit dengan perpangkatan 2. Ingat, perpangkatan 2 tersebut berurut mulai dari 20 sampai 2n, untuk setiap bit mulai dari kanan ke kiri. Maka :
100001012   =   (1 x 20) + (0 x 21) + (1 x 22) + (0 x 23) + (0 x 24) + (0 x 25) + (0 x 26) + (1 x 27)
                    =        1 + 0 + 4 + 0 + 0 + 0 + 0 + 128         
                    =   13310

5.      Konversi bilangan Biner ke Oktal
Untuk merubah bilangan biner ke bilangan oktal, perlu diperhatikan bahwa setiap bilangan oktal mewakili 3 bit dari bilangan biner. Maka jika kita memiliki bilangan biner 1101112 yang ingin dikonversi ke bilangan oktal, langkah pertama yang kita lakukan adalah memilah-milah bilangan biner tersebut, setiap bagian 3 bit, mulai dari kanan ke kiri, sehingga menjadi seperti berikut :
110  dan  111


                                                           6             7
setelah dilakukan proses pemilah-milahan seperti ini, dilakukan proses konversi ke desimal terlebih dahulu secara terpisah. 110 dikonversi menjadi 6, dan 111 dikonversi menjadi 7. Hasilnya kemudian digabungkan, menjadi 678, yang merupakan bilangan oktal dari 1101112.
Contoh lain :
Konversikan 111001012 kedalam bentuk bilangan oktal.
11       100      101

                                                      3         4          5
Jadi 111001012 = 3458


6.      Konversi Biner ke Heksadesimal
Sebagai contoh, misalnya merubah 111000102ke bentuk heksadesimal. Proses konversinya juga tidak begitu rumit, hanya tinggal memilahkan bit2 tersebut menjadi kelompok-kelompok 4 bit.
Pemilahan dimulai dari kanan kekiri, sehingga hasilnya sbb :
1110 dan 0010
Nah, coba lihat bit2 tersebut. Konversilah bit2 tersebut ke desimal terlebih dahulu satu persatu, sehingga didapat :
1110 = 14 dan 0010 = 2
14 dilambangkan dengan E16.
Dengan demikian, hasil konversinya adalah E216.
Bagaimana kalau bilangan binernya tidak berjumlah 8 bit. Contohnya 1101012. Caranya tambahkan saja 0 di depannya. Tidak akan memberi pengaruh terhadap hasilnya. Jadi setelah ditambah menjadi 001101012.
Hasilnya adalah
0011 = 3
0101 = 5
Dengan demikian hasil konversinya adalah 3516.

7.      Konversi Bilangan Oktal ke Biner
Sebaliknya untuk mengkonversi Bilangan Oktal ke Biner yang harus dilakukan adalah terjemahkan setiap digit bilangan oktal ke 3 digit bilangan biner.
Contoh Konversikan 2638 ke bilangan biner.
2         6        3

             010     110    011
Jadi 2638 = 0101100112,  karena 0 didepan tidak dituliskan maka hasilnya adalah 101100112.
Contoh lain :
4268 konversikan ke dalam bentuk biner.
4         2        6

100     010    110
Jadi 4268 = 1000101102
8.      Konversi Bilangan Oktal ke Desimal
Uraikan masing-masing digit bilangan biner kedalam susunan radik 8 (kalikan saja setiap bilangan dengan perpangkatan 8).
Contoh, bilangan oktal yang dikonversi ke dalam bentuk desimal adalah 716. Maka susunannya menjadi demikian:
7168 = (6 x 80) + (1 x 81) + (7 x 82)
        =  6  +  8  +  448
        =  46210

9.      Konversi Bilangan Oktal ke Heksadesimal
Untuk konversi oktal ke heksadesimal, kita akan membutuhkan perantara, yaitu bilangan biner. Maksudnya adalah kita konversi terlebih dahulu oktalcar ke biner,  lalu  konversikan nilai  biner  tersebut  ke  nilai  heksadesimalnya.  Nah,  baik  yang  konversi  oktal  ke  biner maupun biner ke heksadesimal kan udah dijelaskan. Coba buktikan, bahwa bilangan oktal 728 jika dikonversi ke heksadesimal menjadi 3A16.
Caranya :
728 à        7          2

               111      010
Hasilnya adalah 0011        1010
                 
                              3            10     
10 dituliskan A16
Jadi hasil konversi dari 728 adalah 3A16.

10.  Konversi Bilangan Heksadesimal ke Biner
Dalam proses konversi heksadesimal ke biner, setiap simbol dalam heksadesimal mewakili 4 bit dari biner. Misalnya proses konversi bilangan heksa B716 ke bilangan biner. Maka setiap simbol di bilangan heksa tersebut dikonversi terpisah ke biner. Ingat, B16 merupakan simbol untuk angka heksadesimal 1116. Nah,  heksadesimal 1116 jika dikonversi ke biner menjadi 10112, sedangkan heksadesimal 716 jika dikonversi ke biner menjadi 01112. Maka bilangan binernya adalah 101101112,
atau kalau dibuat ilustrasinya seperti berikut ini :
B 7 à bentuk heksa
11 7 à bentuk desimal
1011 0111 à bentuk biner
Hasilnya disatukan, sehingga menjadi 101101112

11.  Konversi Bilangan Heksadesimal ke Desimal
Untuk proses konversi ini, caranya sama saja dengan proses konversi biner ke desimal, hanya saja kali ini perpangkatan yang digunakan adalah perpangkatan 16, bukan perpangkatan 2. Sebagai contoh, konversi bilangan heksa C816 ke bilangan desimal. Maka terlebih dahulu ubah susunan bilangan heksa tersebut, mulai dari kanan ke kiri, sehingga menjadi sebagai berikut :
C8(16) = (12x161) + (8x160)
         = 192 + 8
         = 200(10)
Contoh lain : 7D(16)
7D(16) = (7x161) + (13x160)
         = 112 + 13
         = 125(10)

12.  Konversi Bilangan Heksadesimal ke Oktal
Nah, sama seperti konversi oktal ke heksadesimal, kita membutuhkan bantuan bilangan biner. Lakukan terlebih dahulu konversi heksadesimal ke biner, lalu konversikan nilai biner tersebut ke oktal. Sebagai latihan, buktikan bahwa nilai heksadesimal E716 jika dikonversi ke oktal menjadi 3478.
Caranya :
Cara 1
Konversikan Hexa à Desimal                        Desimal à Oktal
E7(16) = (14x161) + (7x160)                                     231 : 8    à sisa 7
         = 224 + 7                                                       28 : 8     Ã   sisa 4
         = 231(10)                                                         3
Hasil :
E7(16) = 347(8)
Cara 2
Konversikan Hexa à Biner                          Biner à Oktal
E7(16) à    E             7                                          011 | 100 | 111
             1 1 1 0  |  0 1 1 1                                       3      4      7
Jadi hasilnya :
E7(16) = 347(8) 

C.    Bentuk Bilangan Dalam Code Form
Mengkonversi bilangan yang berharga besar, memerlukan hitungan yang cukup melelahkan. Melalui bilangan dalam Code Form maka pekerjaan konversi bilangan
dapat dipermudah dan dipercepat. Di bawah ini adalah Code Form dalam bilangan
Desimal, Bilangan Oktal dan bilangan Heksadesimal yang sering dipergunakan.
1.      Sistem Bilangan Binary Code Decimal (BCD)
Bilangan desimal pada setiap tempat dapat terdiri dari 10 bilangan yang berbeda-beda. Untuk bilangan biner bentuk dari 10 elemen yang berbeda beda memerlukan 4 bit. Sebuah BCD mempunyai 4 bit biner untuk setiap tempat bilangan desimal. Kode ini digunakan untuk meng-outputkan hasil digital ke peralatan yang men-displaykan bilangan numeric (0-9), seperti : jam digital, voltmeter digital.
Ada 5 jenis kode BCD :






Contoh 1 :
Z(10) = 317
3          1          7          Desimal

        0011    0001    0111        Biner Code Desimal
Dalam contoh ini BCD terdiri dari 3 kelompok bilangan masing-masing terdiri dari 4 bit, dan jika bilangan desimal tersebut di atas dikonversi ke dalam bilangan biner secara langsung adalah 317(10)= 100111101(2) dan hanya memerlukan 9 bit. Untuk contoh proses sebaliknya dapat dilihat di bawah ini.
Contoh :
Biner Code Desimal                0101 0001 0111 0000

Desimal                                      5       1       7       0
Jadi bentuk BCD di atas adalah bilangan Z(10)= 5170.
Contoh 2 :
a.       710 = ………. BCD(8421) ?
710 = (8x0) + (4x1) + (2x1) + (1x1)
710 = 0111BCD(8421)
b.      1810 = ………BCD(5421) ?
1810 = (5x0) + (4x0) + (2x0) + (1x1)       (5x1) + (4x0) + (2x1) + (1x1)
       = 0001  1011BCD(5421)
c.       4810 = ………BCD(2421) ?
= (2x0) + (4x1) + (2x0) + (1x0)      (2x1) + (4x1) + (2x1) + (1x0)
= 0100  1110BCD(2421)

Dari ke-tiga jenis kode BCD dengan bobot, yang paling banyak digunakan adalah kode 8421.

Kode Excess – 3
Kode ini memiliki kelebihan nilai 3 dari digit asalnya.
Contoh :
010 disimpan sebagai (0+3) = 0011Excess-3
Nilai tertinggi untuk BCD Excess-3 adalah (9+3) = 1100Excess-3
Kode 2 of 5
Kode ini memiliki 2 nilai bit “1” dari 5 bit yang tersedia. Penempatan bit “1” dimulai dari MSB, sedang bit “1” untuk digit berikutnya mengikuti posisi di sebelahnya.
Contoh :
210 disimpan sebagai 100102 of 5

Table 3 Rangkaian Kode BCD






2.      Binary Code Hexadecimal (BCH)
Bilangan heksadesimal dalam setiap tempatdapat terdiri dari 16 bilangan yang
berbeda-beda ( angka dan huruf ). Bentuk biner untuk 16 elemen memerlukan 4 bit. Sebuah BCH mempunyai 4 bit biner untuk setiap tempat bilangan heksadesimal.
Contoh
Z(16) = 31AF
Bilangan Heksadesimal           3          1          A         F
Biner Code Heksadesimal   0011   0001    1010   1111
Untuk proses sebaliknya, setiap 4 bit dikonversi ke dalam bilangan heksadesimal.
Contoh :
Biner Code Heksadesimal      1010   0110   0001   1000
Bilangan Heksadesimal              A         6         1          8
Jadi bentuk BCH diatas adalah bilangan Z(16)= A618.

D.    ASCII Code à American Standard Code For Information Interchange
Dalam bidang mikrokomputer ASCII-Code mempunyai arti yang sangat khusus, yaitu untuk mengkodekan karakter (Huruf, Angka dan tanda baca yang lainnya). Code-code ini merupakan code standard yang dipakai oleh sebagian besar sistem mikrokomputer. Selain huruf, angka dan tanda baca yang lainada 32 (mis ACK, NAK dsb.) merupakan kontrol untuk keperluan transportasi data. ASCII Code terdiri dari 7 bit biner à 27 = 128 kombinasi kode 7 bit à3 bit MSB dan 4 bit LSB.
Di bawah ini adalah tabel 7 bit ASCII Code beserta beberapa penjelasan yang diperlukan.



                                                      Tabel Kode ASCI                                                                                         
Contoh :
Untuk mendapatkan ASCII Code bagi karakter N adalah 100 1110 ( 4E16) dengan
penjelasan bahwa 100 adalah b7, b6 dan b5 yang lurus keatas terhadap huruf N dan
dan berharga 4 sedangkan 1110 adalah b4, b3, b2 dan b1 yang lurus kesamping kiri
terhadap huruf N dan berharga E.

Contoh lain :
Dengan menggunakan table ASCII, tentukan kode ASCII untuk 65-M
Jawab :
6   Ã  011 0110
5   Ã  011 0101
-       Ã  010 1101
M à 100 1101

  
LATIHAN SOAL :
1.      Konversikan system bilangan berikut ini :
a.       75(10) = ……….. (2)                                             f. 647(8) = …………… (10)
b.      10101110(2) = ………. (8)                                g.  B5C(16) = …………. (8)
c.       63(8) = ………… (10)                                h.  74(8) = …………. (BCD)
d.      8AF(16) = ………… (2)                                      i.   567(8) = …………. (2)
e.       1010 1010(BCD) = ……….. (16)                       j.   6CA(16) = ………… (2)
2.      Konversikan command berikut ini ke dalam kode ASCII :
BEGIN ()
23:LD A, 100h;
LD B, 20h;
ADD A,B;
GOTO 23;
END;







Reviewed by rio adi saputra on Oktober 30, 2018 Rating: 5
ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.